Pemko Subulussalam Hidupkan Kembali Lae Soraya-Singkil Demi Pariwisata Berkelanjutan
Newsporium Sabang — Pemko Subulussalam Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam menegaskan komitmennya untuk menghidupkan alur Sungai Lae Soraya, yang kemudian bermuara ke Singkil, sebagai bagian dari strategi pengembangan pariwisata berbasis alam (ekowisata). Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus menjaga kelestarian alam kawasan Leuser.
Potensi Wisata Alam yang Belum Maksimal
Sungai Lae Soraya, juga dikenal sebagai bagian dari Sungai Alas-Singkil, memiliki potensi ekowisata yang besar. Di sepanjang alirannya, terdapat air terjun Soraya yang memikat wisatawan petualang.
Akses ke air terjun ini membutuhkan perjalanan perahu melalui sungai sekitar 50–60 menit, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati hutan lindung Leuser — sebuah wisata alam sejati.
Karena kondisi alamnya yang masih alami, area ini menawarkan pengalaman keheningan hutan tropis dan pemandangan batuan air terjun yang eksotis.
Baca Juga: Satpol PP dan Bea Cukai Kota Banda Aceh Kembali Sita Rokok Ilegal
Dorongan Pemerintah Kota untuk Revitalisasi Alur Sungai
Pemko Subulussalam melihat bahwa menghidupkan kembali alur Sungai Lae Soraya bukan hanya soal wisata, tetapi juga soal fungsi ekologis dan sosial. Aliran sungai yang lancar dapat memperkuat transportasi lokal dan mendukung sektor pariwisata air seperti arung jeram dan wisata perahu.
Konsep ekowisata ini sekaligus menjadi alat pemberdayaan masyarakat lokal. Wisatawan yang datang bisa memberi manfaat ekonomi bagi pemandu lokal, pemilik perahu, dan komunitas desa di hulu sungai.
Tantangan Lingkungan dan Ekologi
Namun, upaya revitalisasi ini bukan tanpa tantangan. Beberapa pihak khawatir terhadap potensi dampak pembangunan besar di sekitar aliran sungai:
Penggiat lingkungan pernah menyerukan transparansi data terkait rencana PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) di alur Lae Soraya, karena proyek semacam itu bisa mengganggu ekosistem dan jalur transportasi masyarakat.
Dugaan sementara mengarah pada pencemaran limbah.
Dari sisi keanekaragaman hayati, studi menunjukkan bahwa Sungai Soraya memiliki ragam ikan air tawar yang cukup kaya, sehingga perlu perlindungan agar ekosistem tetap sehat.
Pemko Subulussalam Manfaat Ekonomi & Sosial dari Revitalisasi
Selain itu, revitalisasi bisa mendorong pariwisata yang lebih berkelanjutan: pendapatan dari wisata bisa mengalir ke masyarakat lokal, sambil menjaga ekosistem agar tetap lestari.
Sinergi dengan Program Berkelanjutan
Inisiatif ini juga sejalan dengan program LASR (Landscape Approach for Sustainable and Resilient) yang berjalan di Subulussalam dan Aceh Singkil. Program ini mendorong pengembangan lanskap berkelanjutan, kolaborasi multi-pemangku kepentingan, dan pelibatan komunitas lokal untuk mengelola sumber daya alam tanpa merusaknya.
Pemko Subulussalam Rekomendasi untuk Keberlanjutan
Agar inisiatif revitalisasi tidak malah merusak alam, berikut beberapa rekomendasi:
Kajian Lingkungan Mendalam
Pemko perlu memfasilitasi studi AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) untuk memastikan bahwa setiap intervensi di sungai tidak merusak habitat satwa dan flora Leuser.
Partisipasi Masyarakat Lokal
Libatkan warga setempat, pemandu wisata, dan komunitas adat dalam perencanaan dan operasional ekowisata.
Pemantauan Kualitas Air
Karena pernah terjadi kematian ikan, harus ada sistem pemantauan kualitas air sungai secara rutin dan transparan.
Kesimpulan
Permintaan Pemko Subulussalam untuk menghidupkan alur Sungai Lae Soraya–Singkil sebagai destinasi pariwisata adalah langkah strategis yang bisa menggabungkan pelestarian alam dengan pemberdayaan ekonomi lokal. Namun, keberhasilan inisiatif ini sangat tergantung pada bagaimana semua pihak — pemerintah, masyarakat, penggiat lingkungan — bekerja sama secara bertanggung jawab agar wisata alam berkembang tanpa merusak ekosistem yang sensitif.












