Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Universitas Nalanda: Pusat Ilmu Pengetahuan Dunia yang Hilang dalam Abu Sejarah

Skintific

Universitas Nalanda: Pusat Ilmu Pengetahuan Dunia yang Hilang dalam Abu Sejarah

Newsporium Sabang – Universitas Nalanda Di sebuah dataran subur di negara bagian Bihar, India, berdiri reruntuhan yang menyimpan jejak kejayaan ilmu pengetahuan dunia. Tempat itu bernama Nalanda — bukan sekadar situs arkeologi, tetapi simbol dari masa keemasan pendidikan di Asia. Sekitar 1.500 tahun yang lalu, Nalanda adalah universitas internasional pertama di dunia, tempat ribuan pelajar dan cendekiawan dari berbagai negara menimba ilmu pengetahuan, filsafat, dan spiritualitas.


Asal-usul dan Berdirinya Universitas Nalanda

Universitas Nalanda didirikan sekitar abad ke-5 Masehi, pada masa pemerintahan Kaisar Kumaragupta I dari Dinasti Gupta. Dinasti ini dikenal sebagai masa keemasan India, ketika seni, ilmu pengetahuan, dan agama berkembang pesat. Nama “Nalanda” diyakini berasal dari dua kata Sansekerta: Nalam (teratai, simbol pengetahuan) dan Da (pemberi), sehingga Nalanda berarti “pemberi ilmu yang tak terbatas.”

Skintific

Nalanda tumbuh bukan sekadar sebagai tempat belajar agama Buddha, tetapi sebagai pusat pendidikan tinggi multibidang, jauh melampaui zamannya. Ia bukan sekadar biara, melainkan kompleks universitas terencana yang menampung ribuan mahasiswa dan dosen dari seluruh Asia.Tutup 830 Tahun, Universitas Nalanda Kembali Dibuka - National Geographic


Baca Juga: 22 Daerah di Aceh Berpotensi Banjir BMKG Minta Warga Waspada

Pusat Ilmu yang Mendunia

Di masa jayanya, Nalanda menampung sekitar 10.000 mahasiswa dan lebih dari 2.000 pengajar dari berbagai negara, termasuk Tiongkok, Korea, Tibet, Nepal, Mongolia, hingga Asia Tenggara. Mereka datang untuk mempelajari filsafat, logika, astronomi, kedokteran, matematika, tata bahasa, hingga seni bahasa Sanskerta dan Pali.

Salah satu keunggulan Nalanda terletak pada perpustakaannya yang legendaris, yang disebut Dharma Ganja atau “Harta Pengetahuan.” Perpustakaan ini terdiri dari tiga bangunan utama:

Ratnasagara (Samudra Permata)

Ratnadadhi (Lautan Permata)

Ratnaranjaka (Kecemerlangan Permata)

Ketiganya menyimpan ratusan ribu manuskrip langka, naskah-naskah suci Buddha, karya ilmiah, dan teks-teks filsafat dari berbagai penjuru dunia. Banyak ahli sejarah percaya bahwa perpustakaan Nalanda adalah yang terbesar di dunia kuno, jauh melampaui perpustakaan Aleksandria di Mesir.


Mahasiswa dari Seluruh Dunia

Ketenaran Nalanda menarik perhatian banyak peziarah dan sarjana asing. Salah satunya adalah Xuanzang (Hiuen Tsang), seorang biksu dan sarjana dari Tiongkok yang belajar di Nalanda selama lebih dari lima tahun pada abad ke-7. Ia menulis catatan rinci tentang kehidupan di universitas itu — tentang disiplin para biksu, debat ilmiah yang sengit, serta kehidupan intelektual yang sangat hidup.

Menurut catatannya, untuk diterima di Nalanda tidak mudah. Calon mahasiswa harus melalui ujian lisan yang ketat di gerbang utama, dihadapan para guru besar. Hanya mereka yang benar-benar menguasai dasar-dasar pengetahuan yang diizinkan belajar di sana.


Arsitektur dan Kehidupan di Kampus

Nalanda dibangun dengan rancangan arsitektur yang luar biasa maju. Situs arkeologis yang masih tersisa menunjukkan adanya sembilan kompleks besar dan lebih dari seratus kuil kecil, lengkap dengan ruang kuliah, asrama, taman, dan kolam. Setiap kompleks memiliki halaman tengah yang dikelilingi ruang belajar dan meditasi.

Para pelajar hidup dengan sederhana namun disiplin. Mereka menjalani kehidupan yang seimbang antara belajar, berdiskusi, berdoa, dan bermeditasi. Kegiatan debat ilmiah dan pertukaran gagasan menjadi bagian dari budaya akademik harian Nalanda.


Tragedi Kehancuran

Sayangnya, kejayaan Nalanda berakhir secara tragis. Pada tahun 1193 M, pasukan penakluk dari Turki yang dipimpin oleh Bakhtiyar Khilji menyerbu wilayah Bihar. Universitas Nalanda dibakar habis. Perpustakaan besar yang menyimpan ratusan ribu manuskrip terbakar selama berbulan-bulan, menandai salah satu kehilangan intelektual terbesar dalam sejarah umat manusia.

Skintific