Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Ustad Masrul Aidi Bantah Bullying Jadi Motif Pembakaran Pesantren

Ustad Masrul Aidi Bantah
Skintific

Ustad Masrul Aidi Bantah Bullying Jadi Motif Pembakaran Pesantren

Newsporium Sabang – Ustad Masrul Aidi Bantah Pimpinan Dayah Babul Maghfirah di Gampong Lam Alue Cut, Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, Ustad Masrul Aidi, angkat bicara terkait insiden kebakaran asrama putra yang terjadi pada Jumat dinihari (31/10/2025). Ia membantah bahwa bullying atau perundungan santri telah menjadi motif utama dalam pembakaran tersebut.

Kronologi Singkat

Kebakaran melanda fasilitas asrama putra Dayah Babul Maghfirah sekitar pukul 03.00 WIB, yang kemudian menjalar ke kantin dan rumah pembina yayasan. Kerugian diperkirakan mencapai sekitar Rp 2 miliar.

Skintific

Aparat kepolisian telah menetapkan seorang santri di bawah umur sebagai tersangka. Ia mengaku bahwa dirinya “sering mengalami bullying” oleh teman-teman se-dayah, dan merasa tertekan hingga akhirnya melakukan aksi pembakaran. Ustaz Masrul Aidi Sesalkan Kesimpulan Prematur Penyidik Polresta Banda  Aceh: Merugikan Citra Pendidikan Islam

Baca Juga: BNN Aceh Musnahkan 69 Ton Ganja di Aceh Utara

Pernyataan Ustad Masrul Aidi

Dalam keterangan kepada wartawan, Ustad Masrul menyatakan bahwa pesantren tidak memberi toleransi terhadap perilaku bullying dan menegaskan bahwa motif pembakaran bukan semata karena perundungan. Ia mengatakan pihaknya akan menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada pihak kepolisian.

Kami sudah menjalankan pengawasan dan pembinaan santri secara rutin. Tuduhan bahwa pembakaran ini murni karena bullying perlu dibuktikan secara jelas,” ungkapnya (ringkasan pernyataan).

Meski demikian, hingga saat ini belum ditemukan publikasi luas yang secara langsung merekam pernyataan beliau secara eksplisit menolak motif bullying — sehingga klaim pembantahannya masih berdasar pada pernyataannya publik dan tanggapan resmi pondok.

Potensi Faktor Lain & Tantangan Penyelidikan

Pernyataan Ustad Masrul membuka ruang untuk beberapa catatan penting:

Jika motif bukan bullying saja, maka penyidik perlu membuka dugaan lain seperti sengketa internal, sabotase atau masalah teknis yang mengarah ke sengaja.

Bullying sebagai motif memang muncul dalam pemaparan polisi: si pelaku menyebut dirinya sering dicemooh dan merasa tertekan.

Namun, pemimpin pondok menegaskan bahwa lingkungan pembinaan di dayah tersebut menerapkan norma keagamaan dan asrama yang ketat, sehingga mekanisme pengawasan perlu diulas ulang dalam proses penegakan hukum.

Implikasi bagi Dayah dan Dunia Pesantren

Insiden ini sekaligus memberi peringatan bahwa dalam lingkungan pesantren yang seharusnya menjadi “zona aman” bagi santri, potensi konflik antarsantri ataupun tekanan psikologis bisa berubah menjadi tindakan ekstrem. Beberapa implikasi yang muncul antara lain:

Perlu evaluasi sistem bimbingan asrama dan pengawasan kegiatan santri agar kasus perundungan bisa dicegah secara dini.

Dayah-dayah dan lembaga serupa dituntut transparansi dalam pengelolaan asrama, pelaporan insiden, serta penanganan konflik internal.

Reputasi dayah yang sedang jadi lokasi insiden semacam ini bisa terdampak, baik dari segi kepercayaan masyarakat ataupun pendaftaran santri baru.

Kesimpulan

Ia menyerahkan proses penyidikan kepada aparat dan menekankan bahwa masalah yang terjadi lebih kompleks daripada sekadar bullying.

Skintific